Pages

Minggu, 09 Oktober 2011

Aku malu karena aku Islam

Menjadi seorang muslim bukan berarti kita perlu bilang secara harfiah (melalui ucapan, pakaian, atau simbol-simbol) bahwa “aku muslim”. Ketika Islam, Iman, dan Ihsan (konsep 165 menurut ESQ) sudah menyatu dalam diri, maka kita sudah tidak memerlukan simbol-simbol Islam. Bahkan tatkala kita melakukan perbuatan yang mulia, tidak perlu segera kita memberi stempel ‘made in Islam’.

Apalagi pasca ledakan Bom oleh seorang yang menggunakan bendera Islam. Rasa sedih, susah, semua bercampur baur menjadi satu. Kenapa lagi lagi ada manusia yang tidak memahami arti Islam. Setiap makan aku selalu teringat akan Rosululloh S.A.W. yang selalu membagikan makanan kepada mahluk lain. Hanya doa dan rasa syukur yang aku rasakan karena aku lebih beruntung dari manusia lain yang kurang makan.

Banyak mereka yang tidak mengenal Islam selalu mencibir bahwa Islam adalah agama perang yang selalu memusuhi orang Yahudi, memusuhi orang kafir. Sungguh aneh pandangan orang orang itu. akan tetapi itu semua tidaklah membuatku benci dengan Islam sebagaimana Rasulullah ajarkan kepada kami.

Setiap teringat akan kisah Rasulullah yang selalu menyuapi seorang pengemis Yahudi. Selera makanku tiba tiba hilang, seakan semua makanan berhenti ditenggorokanku. Mataku seakan terbakar menahan panas tanpa terasa air menetes setiap mengingat kisah ini,


Suatu hari Sahabat Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya yang juga Istri Nabi Aisyah RHA. Saat itu Nabi Muhammad SAW sudah tiada. Kepada Aisyah, Abubakar bertanya apakah kebiasaan yang biasa dilakukan Nabi, yang belum pernah dikerjakannya.

Kepada ayahnya itu, Aisyah mengatakan semua sunnah Nabi sudah dilakukan, namun ada satu yang belum pernah dilakukan Abubakar. Kebiasaan Nabi yang luput dilakukan Abubakar itu adalah; setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke pasar kota Madinah dan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi di sana.

Abubakar yang penasaran, keesokan harinya berniat melakukan kebiasaan Nabi itu. Dia pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis Yahudi yang diceritakan Aisyah. Dia menemukan pengemis Yahudi itu disudut pasar. Ternyata pengemis Yahudi itu adalah seorang pengemis buta yang selalu berteriak menghina dan menghujat Rasulullah.

Tiap hari pengemis itu berteriak lantang kepada orang-orang : “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya”. Hujatan itu selalu diteriakkan pengemis itu sepanjang hari.

Melihat itu, Abubakar heran mengapa Nabi member makan orang yang menghinanya setiaphari. Namun Abubakar tetap mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan. Dia ingin menirukan perbuatan baik yang dilakukan Nabi sebagaimana yang diceritakan Aisyah.

Saat Abubakar mulai menyuapi, tiba-tiba pengemis itu marah sambil berteriak. Dia menanyakan siapa yang menyuapinya. Abubakar mengatakan dia adalah orang yang biasa menyuapi setiap hari. Namun pengemis buta itu tidak percaya. Meski Abubakar meyakinkan dirinya yang membawakan makanan setiap hari tetap saja pengemis itu tidak percaya.

Pengemis Yahudi itu mengatakan yang biasa membawakan makanan dan menyuapinya jauh lebih lembut dan sabar dalam menyuapi. Pengemis itu berkata jika yang biasa menyapinya datang tidak susah tangan pengemis itu memegang dan tidak susah pula mulutnya mengunyah. “Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut,” ujarnya. Orang yang biasa datang itu juga sangat sabar membantu makan sampai selesai dan kenyang.

Mendengar hal itu Abubakar pun menangis. Dia terharu dengan kebaikan Nabi yang meski dihujat tetap memberikan makanan dengan sangat baik kepada pengemis yang menghujatnya. Lalu Abubakar mengatakan pada pengemis itu bahwa dirinya memang bukan orang yang biasa datang. Dia mengatakan bahwa dirinya hanya salah satu dari sahabat orang yang biasa datang, dia datang menggantikan karena orang yang biasa datang itu teleh meninggal.

Kemudian Abubakar memberitahu pengemis itu bahwa orang yang biasa datang itu adalah Nabi Muhammad yang selalu dihujat pengemis itu. Pengemis Yahudi itu pun kaget dan menangis. Dia mengaku malu dan tidak menyangka orang yang selalu dihujatnya adalah Rasulullah, orang yang setiap hari memberinya makan dan menyuapinya dengan lembut dan sabar.

Yah biarkan mereka selalu menghujat, selalu menyalahkan yang mereka tidak tahu, tapi dalam benakku beliaulah Tauladan serta cermin bagi umat manusia.

Semoga rasa malu itu selalu berada didalam diriku, karena malu itu selalu membacaku kedalam alam sadar untuk tidak melanggar akan Rosululloh tuntunkan kepadaku. Dengan rasa malu itu selalu membuat aku istiqomah dan tawakal